You are here::
 
 

Ke Pare-Pare atau ke Soppeng?

E-mail Print PDF

Edisi : IV

Tanggal 11/03/2013

 

“ KE PARE PARE ATAU KE SOPPENG ? “

Oleh :

H. Alimin Patawari

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Makassar

 

pare1 Sebelum meninggalkan kota Sengkang, saya dan pak Agus tawar menawar antara mau melanjutkan perjalan ke Pare- Pare atau ke Soppeng. mungkin saja irwan sebagai driver merasa bingung mau lanjut kemana, akhirnya diputuskan kalau perjalanan kita lanjutkan ke Pare – Pare melewati Sidrap namun ternyata Pengadilan Agama Sidrap sudah menyiapkan untuk kita makan sore hari itu, maka sepakat semua, Irwan melaju keluar kota menuju Sidrap yang hanya berjarak sekitar kurang lebih 30 Km dari Sengkang dan bisa di tempuh dalam waktu setengah jam saja. Walaupun Pengadilan Agama Sidrap belum dijadwalkan untuk dilakukan pembinaan, tetap saya singgah di Pengadilan Agama untuk sekedar melihat apa dan bagaimana kondisi Pengadilan Agama Sidrap yang tahun ini mendapatkan anggaran perluasan gedung kantor. Sepanjang perjalanan terbentang luas lahan sawah dengan hamparan padi menguning yang siap dipanen, yang menandakan betapa makmurnya kehidupan di Negeri ini . dan biasanya jika suatu daerah yang kondisi ekonomi penduduknya makmur maka jarang terjadi perceraian. Dan yang banyak terjadi mungkin kasus permohonan izin poligami, saya juga dengar dari pak Agus di Pengadilan Agama Sidrap termasuk daerah yang volume perkaranya banyak, yang terdiri dari berbagai jenis perkara termasuk sengketa kewarisan.

pare1Gedung Pengadilan Agama Sidrap berdiri tidak jauh dari jalan protokol, Nampak megah sesuai bangunan standar pengadilan, walaupun finishing pekerjaannya tidak terlalu halus. bangunan tambahan tahun sebelumnya kelihatan belum selesai dan akan dilanjutkan penyelesaiannya tahun anggaran 2013 ini.

Kunjungan menyinggahi Sidrap walaupun tidak termasuk dalam perencanaan perjalanan kali ini, namun saya sempat ngumpul- ngumpul dengan rekan- rekan Hakim yang berasal dari berbagai daerah, kelihatannya sudah kerasan tinggal di Sidrap, walaupun sudah ada yang lewat dari tiga tahun termasuk Ketua Pengadilan Agama nya sendiri yang berasal dari Jawa Timur.

Dengan nada canda saya katakan bahwa Pak Qasim ini sebenarnya bukan orang jawa lagi, tapi orang Sidrap yang berasal dari Jawa, karena prinsip kita dimana kita ditugaskan itulah negeri kita , tempat pengabdian kita. Makan ’Cawiwi’nya Sidrap( sejenis burung itik terbang ) artinya sudah menyatu dengan orang Sidrap, jika masih merasa sebagai orang Jawa maka selalu terfikirkan kapan mutasi ke Jawa.

Hari semakin sore dan waktu telah menunjukkan pukul 17:00 saya meninggalkan Pengadilan Agama Sidrap setelah beristirahat dengan berbagai macam jamuan makan sorenya, dan kembali melaju ke kota Pare – Pare. di jalan yang mulus dan sedikit berliku dan perjalanan bisa ditempuh sekitar setengah jam dengan jarak tempuh sekitar 30 km dari kota Sidrap dan menjelang maghrib tiba di Pare – Pare dan menginap di sebuah Hotel yang mempunyai pemandangan cukup indah dan karena berada di atas bukit , kegiatan pada malam harinya hanya beristirahat dan makan malam bersama Ketua Pengadilan Agama Pare –Pare Pak Nurdin Situju, dengan didampingi oleh Pak Basir pegawai Pengadilan Agama Pinrang.

Hari kamis pagi tanggal 21 Pebruari 2013, Pak Agus lebih awal ke kantor Pengadilan Agama Pare – Pare untuk melakukan monitoring pelaksanaan tugas administrasi kepaniteraan, dan kesekretariatan, yang temuan – temuannya nantinya akan disampaikan dalam tatap muka dengan seluruh jajaran aparat Pengadilan Agama Pare – Pare.

Mengawali tatap muka maka Pak Ketua Pengadilan Agama Pare – Pare H. Nurdin Situju yang baru tiga bulan dilantik sebagai Ketua Pengadilan Agama Pare – Pare melaporkan tentang kondisi Pengadilan Agama Pare – Pare , dari masalah perkara yang diterima dan diselesaikan setiap bulan, sampai ke masalah meubelair kantor yang walaupun baru dibeli , tetapi kelihatan tidak sesuai dengan kondisi saat ini. beliau juga melaporkan tentang kondisi bangunan kantor yang dibangun belum terlalu lama tapi nampaknya di sana sini perlu diperbaiki karena sudah kelihatan rusak.

pare1Dan di contohkan bahwa bagian plafon teras depan mengalami perbaikan karena sangat dikhawatirkan jika jatuh akan menimpa dan mencelakai orang lain, dan saya melihat sendiri perbaikan sementara berlangsung. Ketua Pengadilan Agama dengan semangat mengatakan bahwa walaupun ”bintang – bintang “ dalam DIPA tahun 2013 masih bertaburan tapi pekerjaan perbaikan sudah bisa berjalan dengan cara utang kiri kanan , demi menghindari kerusakan lebih parah . saya salut dengan semangatnya yang tidak ingin berlama- lama menunggu jatuhnya “ bintang - bintang“ DIPA tapi tetap saya ingatkan bahwa KPA harus hati – hati dalam penggunaan anggaran , karena jangan sampai niat dan tujuan kita baik, termyata kita melanggar prosedur administrasi yang berakibat kita tetap akan di persalahkan oleh pengawas / pemeriksa Badan Pengawasan Mahkamah Agung atau Hakim Tinggi Pembina / pengawas daerah Pengadilan Agama Pare – Pare.

Setelah Ketua Pengadilan Agama Pare – Pare selesai menyampaikan laporannya, seperti biasa Pak Agus menyampaikan hasil temuannya baik dibidang administrasi Yustisial maupun administrasi umum lainnya. termasuk kondisi kantor yang baru dibangun tapi sudah harus mengalami perbaikan, sebagai orang jawa barat yang berbahasa halus dan santun melontarkan kritikannya, bahwa hasil finishing bangunan kantor Pengadilan Agama kelihatannya dikerjakan dengan kaki , karena jika dikerjakan dengan tangan pasti hasilnya tidak seperti ini . saya nyeletuk sama pak Agus bahwa katakan saja bangunannya kasar sehingga mereka paham maksudnya.

Kembali kepada masalah administrasi peradilan yang mana temuan pak Pansek, sama yang terjadi di Pengadilan Agama lainnya, seperti di Bulukumba, Bantaeng, Sengkang, masih ada laporan yang tidak sesuai kenyataan khususnya masalah administrasi perkara. artinya dalam laporan bulanan tertulis bahwa perkara sudah selesai diminutasi ternyata setelah dichek berkasnya minutasi belum selesai dan banyak hal lainnya yang terkait dengan administrasi yang masih perlu lebih untuk diperbaiki lagi .

Kesempatan diberikan kepada saya untuk memberikan arahan dalam tatap muka yang intinya sangat mengharapkan agar pelayanan kepada pencari keadilan itu terus ditingkatkan dari waktu ke waktu khususnya mengenai penyelesaian perkara , bukan hanya harus diselesaikan dengan asal cepat akan tetapi sangat diperlukan agar mutu dan kualitas putusan, dapat memuaskan para pihak, baik pihak yang menang maupun pihak yang kalah karena tidak mungkin dalam satu perkara kedua belah pihak menang semua atau kalah semua. disamping peningkatan kualitas mutu putusan yang harus ditingkatkan. saya mengharapkan pula agar aparat Pengadilan Agama dari jabatan pimpnan sampai pesuruh kantor, harus menjadi aparat yang bisa ditauladani dan menjadi panutan, menjunjung tinggi moralitas dan kedisiplinan baik dalam kedinasan maupun diluar kedinasan.

Disamping itu kita harus senantiasa menjaga kekompakan, menjaga semangat kekeluargaan dan jiwa korsa yang tinggi. Kedisiplinan sejatinya adalah kemampuan untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan, suka atau tidak suka. Disiplin diformalkan dalam bentuk aturan tata tertib yang sifatnya mengikat.

PPH (Pedoman Perilaku Hakim) harus diaplikasikan dalam keseharian kita sehingga wibawa dan martabat Hakim terjaga dengan baik. menyinggung masalah PP 94 tahun 2012 seharusnya kedisiplinan dalam bekerja harus lebih baik dari sebelumnya sebagai salah satu bagian dari pelaksanaan Reformasi Birokrasi Peradilan. Saya juga sangat mengharapkan agar tidak terjadi penyimpangan aturan sekecil apapun, khususnya yang terkait dengan pengelolaan biaya perkara maupun DIPA tahun 2013, karena jika itu terjadi maka pasti tidak ada toleransi bagi siapapun yang melakukan pelanggaran atau penyimpangan. Untuk menghindari kesalahpahaman dalam pengelolaan anggaran tentu diperlukan kerjasama yang baik diantara para pengelola dibawah pengawasan pimpinan. Saya malah minta kepada Ketua Pengadilan Agama / Wakil Ketua Pengadilan Agama maupun Pansek agar tidak segan – segan marah kepada aparat yang melanggar aturan, asalkan marah yang positif dan bermaksud memperbaiki

Pansek Pengadilan Agama Pare – Pare ( Pak Sudirman ) kelihatan terlalu halus dan suaranyapun hampir tidak kedengaran dan tidak pernah memarahi bawahannnnya, dan saya perintahkan agar suaranya lebih dikeraskan.

Karena sudah tiga hari dalam perjalan kunjungan kerja , terasa juga sudah mulai kelelahan, saya kembali ke Makassar dengan menyinggahi Pengadilan Agama Barru dan Pangkajene, wlalupun hanya sekedar mampir untuk melihat . kini giliran irwan juga harus istirahat di jok belakang mobil dan Satriawan yang mengambil alih kemudi yang melaju dengan kecepatan 100 km / jam menuju Makassar, dan tawar menawar ke Pare – Pare atau ke Soppeng juga sudah selesai.

Wassalam . ( A. P )