You are here::
 
 

Bisa Tidak Bisa, Harus Bisa

E-mail Print PDF

 Edisi : V

 Tanggal 18/03/2013

“ BISA TIDAK BISA, HARUS BISA “

Oleh :

H. Alimin Patawari

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Makassar

 

Sebuah ungkapan yang sederhana namun punya makna yang luar biasa, jika kita bisa menerjemahkan, menjabarkan ungkapan itu dalam keseharian kita, khususnya sebagai warga Peradilan Agama, apa pula ungkapan itu disampaikan oleh Dirjen BADILAG bapak Purwosusilo dalam rapat perdananya di kantor Dirjen BADILAG, sesaat sesudah dilantik sebagai Dirjen BADILAG oleh Ketua Mahkamah Agung.

Sebagai aparat yang sudah di tetapkan TUPOKSInya bahkan sudah di tuangkan dalam uraian tugas masing – masing tentang apa yang akan dikerjakannya. persoalannya adalah apakah pekerjaan yang diatur dalam uraian pekerjaan itu sesuai dengan bidang kompetensi kita?. Jika sudah sesuai bagaimana mengerjakannya, di sini pentingnya ungkapan diatas, “bisa tidak bisa, harus bisa” artinya bahwa seandainya belum bisa tentu memaksakan kita untuk harus belajar banyak tentang tugas kita.

Karena tentu saja ungkapan tersebut, tak dimaksudkan sebagai bekerja asal – asalan, artinya asal selesai saja tanpa memperdulikan benar tidaknya pekerjaan tersebut. Dengan demikian boleh jadi ungkapan ini dimaksudkan pula agar memacu kita untuk terus mempelajari dan memahami hal yang terkait dengan tugas kita. Saya kira kita sependapat bahwa tidak memahami ungkapan di atas akan berakibat fatal karena seseorang yang tidak pernah memegang setir mobil di haruskan menjadi driver, akan berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain dan merusak kendaraan. Bagaimana agar bisa menjadi driver yang baik , tentu tidak cukup hanya dengan membaca buku petunjuk atau paham tentang fungsi dari masing – masing alat / bagian dari mobil, tetapi harus dengan latihan mengemudi dan mengasah kemampuannya sebagai driver setiap saat, agar supaya dari tidak bisa menjadi bisa. Demikian pula halnya dengan pekerjaan dan tugas lainnya, tidak ada yang tidak bisa jika kita mempunyai kemauan keras dan usaha yang kuat, serta niat sepenuh hati.

Apalagi bagi seorang pimpinan adalah driver ( supir ), “meminjam istilah pak Wahyu” sudah barang tentu segalanya harus bisa dan tidak boleh mengatakan tidak bisa. Jika disodori tugas sesuai dengan TUPOKSInya.

Kata kunci dari ungkapan di atas adalah semua tugas pekerjaan jika dikerjakan dengan kemauan yang keras, upaya yang kuat, niat yang ikhlas dan dengan cara yang cerdas , maka seberat apapun tugas yang dibebankan kepada kita pasti dapat dikerjakan dengan baik dan dengan hasil yang baik pula. Sebaliknya jika dikerjakan dengan kemauan yang setengah hati, niat yang tidak lurus, usaha yang tak maksimal dan dengan cara yang apa adanya ( tidak cerdas) hampir dipastikan bahwa tugas pekerjaan itu akan menemui kegagalan, seandainya pun pekerjaan berhasil diselesaikan, pasti saja hasilnya tidak akan memuaskan.

Itulah kira – kira maksud dari ungkapan yang disampaikan Pak Dirjen kita, yang jika dicermati lebih jauh lagi akan memberi motivasi dan semangat bagi kita untuk bekerja secara profesional. Saya teringat dengan slogan pak SBY pada saat kampanye calon presiden yang menyatakan bahwa ” bisa tidak bisa,pasti bisa jika kita selalu bersama”

Mari kita tingkatkan rasa dan semangat kebersamaan, memupuk rasa soliditas, menjaga keharmonisan, serta selalu dalam kekompakan insya Allah maka segalanya pasti bisa. Kuncinya adalah membangun komunikasi , tidak ada yang tidak bisa dilakukan, tidak ada masalah yang menjadi kendala,apabila kita senantiasa membina komunikasi yang baik dan pada akhirnya segalanya akan berjalan dengan baik pula.

Ternyata ungkapan “bisa tidak bisa,harus bisa” , dapat menjadi motivasi bagi kita untuk sukses dalam tugas sehari –hari. Dan ungkapan ini akan lebih sempurna jika kita tambahkan bahwa “tahu tidak tahu, harus tahu”. Wassalam ( A.P )