You are here::
 
 

TPM ( Takut Pindah / Mutasi ) Siapa Takut ??

E-mail Print PDF

Edisi : IX

Tanggal

 

“ TPM ( Takut Pindah / Mutasi ) Siapa Takut ?? “

Oleh :

H. Alimin Patawari

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Makassar

  alt 

Akhir - akhir ini kembali marak tentang gonjang ganjing hasil TPM       ( Team Promosi Mutasi ) di Badilag.net yang rame di diskusikan kawan – kawan Hakim khususnya di Peradilan Agama di se antero Tanah Air, sampai – sampai Website Badilag.net menjadi sulit di akses dan selalu error tak bisa dibuka karena saking banyaknya yang mengunjungi Web tersebut, servernya mungkin terganggu akibat dari banyaknya peminat yang ingin segera membaca apa hasil TPM tersebut.

Demikianlah keadaannya ketika desas – desus tentang TPM dihembuskan, walau sebenarnya informasi tersebut sebatas masih informasi yang belum tentu benar adanya.

Saya sampai bertanya dalam hati, sebegitu pentingkah berita tentang TPM sehingga pembacanya jauh lebih banyak dibanding dengan pembaca artikel – artikel penting lainnya. pertanyaan dalam hati saya tersebut, sebenarnya saya sendiri masih mencari – cari jawabannya, namun sifatnya sangat relatif tergantung masing –masing kepentingan peminat TPM.

Promosi / Mutasi adalah masalah yang sangat biasa saja, artinya bukan hal yang luar biasa . tetapi ketika surat TPM itu diissukan akan ada, menjadi berita yang sangat luar biasa dinantikan oleh kawan - kawan Hakim. kita bisa baca bagaimana kawan – kawan Hakim yang punya akun Facebook, berkomentar tentang issu TPM ini. Kelihatannya ada yang tidak sabar menunggu munculnya hasil TPM, dengan berbagai kepentingan.  

Ada Dua pihak yang bertolak belakang kepentingannya tentang TPM, yaitu pihak yang sangat menginginkan TPM agar bisa secepatnya dimutasi karena lamanya di salah satu Pengadilan Agama, sehingga ingin penyegaran, ada yang ingin lebih dekat keluarga karena selama ini harus berpisah Istri / anak yang tinggal berjauhan, ada pula yang karena pangkatnya mentok tidak bisa naik pangkat jika tidak dimutasi ke Kelas yang lebih tinggi. malah ada khususnya para Ketua Pengadilan Agama menginginkan dirinya dipromosi sebagai Hakim Tinggi .

Kelompok – kelompok seperti ini kelihatannya selalu resah dan gelisah kapan hasil TPM itu akan muncul di layar Badilag.net , di sisi lain saya melihat bahwa ada pula pihak atau kelompok yang takut pindah / mutasi ( TPM ) yang juga rajin memantau hasil TPM hanya karena ingin tahu apakah dirinya lolos dari jaringan atau tetap ditempat. kelompok ini sepertinya tak menginginkan pindah / mutasi karena di tempatnya saat ini dianggap aman. aman disebabkan oleh karena saat ini sudah dekat dengan keluarga, sudah merasa enjoy dengan jabatannya, dan jika dimutasi akan menjadi musibah baginya. biasanya kelompok ini beranggotakan orang – orang penduduk asli ditempat itu, sementara kelompok yang pertama tadi , kebanyakan orang yang berasal dari luar daerahnya.

Tahun lalu saya pernah menulis rubrik “Jendela Kita” di Website Pengadilan Tinggi Agama Banjarmasin dengan judul “ Penyakit TPM  ( Takut Pindah / Mutasi )” saking tertariknya melihat keadaan kawan – kawan yang setiap hari mengomentari masalah TPM , maka kembali saya menulis artikel singkat ini yang di muat di rubrik “Jendela KPTA” dengan harapan agar masalah TPM ini tidak perlu dirisaukan karena bagaimanapun juga pada saatnya semua Hakim akan melewati pintu TPM, entah kapan tergantung dengan garis tangan masing – masing, suka atau tidak suka, minta atau tidak diminta , pasti akan datang menjemput kita.

Dengan demikian untuk apa kita risaukan hal yang pasti akan datang dan pasti akan dialami. TPM tidak perlu terlalu dinantikan dan tidak perlu terlalu ditakutkan, bukankah setiap Hakim sudah siap dengan resiko yang harus ditempuh.

bukankah kita berjanji dan bernyanyi di setiap acara pelantikan “Lagu padamu Negeri “ yang di akhir baitnya di katakan “ bagimu negeri jiwa raga kami??” bukankah janji itu adalah utang yang harus ditepati, jika demikian mengapa harus ada kelompok / pihak yang menginginkan TPM karena keinginan pindah, dan kelompok / pihak yang tidak kepingin pindah.

Saya bisa berkata seperti ini karena sudah malang melintang dengan hasil TPM yang mengharuskan saya dan keluarga harus berlanglang buana ke berbagai negeri, keadaan seperti ini saya syukuri karena dengan mutasi saya bisa melihat berbagai negeri dan menambah wawasan dan Nasionalisme saya. namun demikian saya sangat memahami keadaan kedua macam kelompok tadi, pendapat keduanya dapat dibenarkan, ( keduanya juga tidak bisa disalahkan ), tinggal bagaimana pola fikir mereka masing – masing dalam memahami apa makna TPM.

 Pola fikir seperti ini diperlukan pembaharuan sebagaimana yang diharapkan dalam Reformasi Birokrasi . pola fikir seperti ini sudah ketinggalan zaman, masih banyak hal yang perlu kita fikirkan saat ini, agar tugas pokok dan fungsi kita sebagai Hakim bisa kita laksanakan dengan baik.

Kita tidak perlu membuang energi hanya untuk larut dalam penantian menunggu TPM . Karena difikirkan atau tidak, sudah ada atasan kita yang memikirkan nasib kita, apa yang terbaik bagi masyarakat dan Negara kita.

Saya sangat menghargai pendapat kawan – kawan ( kedua kelompok ) sehingga saya berpendapat bahwa wajar sekiranya dipertimbangkan oleh atasan kita agar mutasi seperti ini penempatan Hakim tidak terlalu lama dalam satu tempat sehingga ada penyegaran -

dan penambahan wawasan pengalaman di berbagai kawasan di nusantara ini.

Saya mengajak, mari kita menatap garis tangan kita masing – masing ke arah mana tujuan pengabdian kita selanjutnya.   semuanya kita serahkan kepada yang Maha Kuasa, kita harus yakin bahwa segala yang terjadi dalam diri kita, nasib kita, perjalanan hidup mati kita “Lillahi Rabbil Alamin” .

Seharusnya TPM harus dipandang sebagai sebuah nikmat amanah bukan dipandang sebagai sebuah musibah.

Dengan demikian maka kita harus berteriak lantang TPM siapa takut. ( A.P )